ALVIA

ALVIA

Selasa, 17 April 2012

Hujan Untuk Pelangi


Alvin,cakka, dan sivia sudah lama bersahabat,sejak mereka masih sd sampai sekarang mereka sma. Hari ini mereka baru menjadi siswa kelas X. “Eh kka, loe di kelas mana?”Tanya Alvin. “kelas x ips 3, loe sendiri?”cakka balik nanya. “gue x ipa 2, eh via mana kok gak keliatan sendiri?”Alvin celingak-celinguk nyari via. “gak tau mungkin masih nyari kelas”sahut cakka. “hey…sorry ya lagi pada nungguin gue ya?!”sivia mengagetkan dari belakang. “iyalah, darimana aja loe?”Tanya Alvin sambil menggeser sedikit posisi duduknya. “abis muter-muter nyari kelas, eh kalian berdua kelas apa?”Tanya sivia. “gue ipa 2”jawab Alvin. “gue sih ips 3, loe sendiri”sahut cakka. “gue pastinya sastra 1 dong”sivia menunjukkan rentetan giginya yang rapi. “ehm…saying ya kita beda jurusan”ujar Alvin pelan. “gak pa-pa lagi vin, justru dengan perbedaan itu kita bias saling mengisi kekurangan kita”sivia menepuk pundak Alvin. “betul juga vi, perbedaan kan indah ya meskipun perbedaan bias bkin tawuran”Alvin nyengir.
Sivia tersenyum manis. Alvin memandang lekat-lekat wajah sivia. “vin”cakka menyenggol lengan Alvin pelan.”eh apa kka?”Alvin terhenyak kaget. “vin,kka gue ke kelas dulu ya mo nyatet schedule buat besok”pamit sivia. “oke”sahut Alvin dan cakka hamper bersamaan. “vin, loe kok ngeliatin via tadi gitu amat..”tegur cakka. “gitu amat gimana maksudnya??”Alvin masih belum paham. “ya gitu lah pokoknya, loe…” “gak lah kka kita kan sahabatan udah lama”potong Alvin yang sepertinya tahu kalimat cakka selanjutnya. “benerr??”cakka mastiin. “iya cakdut”Alvin mengacak-acak rambut cakka. “dasar, mr.sipit”bales cakka.  
Pulang sekolah             
“dari mana kamu via?”Tanya ayah sivia yang sudah berdiri di depan pintu rumah. “dari pulang sekolah  yah”jawab via sopan. “kenapa jam segini baru pulang??kamu mau berbohong sama ayah..”bentak ayah via. “gak yah, via gak bohong, tadi di sekolah memang ada acara sholat berjama’ah dulu untuk pembukaan mos”jelas sivia. “bohong, bukti tadi pricil udah pulang” “pricil kan memang nasrani yah jadi pulang lebih dulu”ujar via. “alah…sekali pembohong tetap aja pembohong dasar anak pembawa siall…”maki ayah via. Sivia hanya diam menunduk menahan air matana agar tidak menetes die pan ayahnya. Semenjak kepergian mamanya sivia memang sering dimaki oleh ayahnya, alasannya karena via lah penyebab kematian istrinya. Mama via meninggal saat perjalanan menjemput pulang sivia dari sekolah, itulah sebabnya kenapa ayah via begitu benci terhadap via.
“mama seandainya saja, mama masih ada, ayah pasti gak akn seperti ini, ayah kesepian mah tanpa kehadiran mama, mungkin itu sebabnya yah sering marahin via,”sivia memandangi figura kecil yang di dalamnya terdapat foto mamanya dan dirinya. “saying ya mah, Tuhan berkehendak lain, tapi via janji kok mah, via akan selalu menjaga ayah dan menjadi yang terbaik buat ayah sama mama tentunya”sivia memeluk erat foto mamanya. Tanpa ia sadari via pun terlelap bersama foto mamanya yang masih dipeluknya. Drrt…drttt..getaran hape via membangunkan via dari mimpi indahnya. “aduhh siapa sih,”dengan mata masih mengantuk di bacanya pesan yang masuk.
From : ko Alvin :P                                        
“vi, ntar sore jam 3an ke rumah pohon ya, gue tunggu, oke?!
Dengan cekatan via pun membalas sms dari Alvin
To : ko Alvin :P 
Oke deh ko…
Koko adalah panggilan kesukaan sivia buat Alvin. Sore pun tiba, sivia keluar rumah dengan tenang karena ayahnya kebetulan ke luar kota untuk meeting bersama client. Sampai di rumah pohon via celingak-celinguk mencari Alvin. “mana Alvin?katanya jam 3 di sini kok gak ada orangnya?”gumam sivia. “vi..gue di sini”sery Alvin dari atas rumah yang terbuat dari bamboo di atas pohon. “ahh…disitu rupanya”via pun menaiki tangga menuju rumh pohon. “cakka mana vin?”Tanya sivia yang belum menemukan cakka di rumah pohon. “belum dating tuh paling juga masih molor”tebak Alvin. “siapa yang masih molor?enak aja, gue udah dating tau..”semprot cakka yang baru datang. “eh hehehe kirain masih tidur loe kka”Alvin nyengir kuda. Cakka manyun..”eh ada apa vin, tumben ngajakin ngumpul?”Tanya sivia. “gak ada pa-pa sih cumin lagi pengen kumpul bareng aja, kan kita jarang ngumpul-ngumpul kayak gini”jawab Alvin. “oh,, iya juga ya,”sivia manggut-manggut. “alah alesan paling-paling loe juga kangen sama gue yak an vin?”ujar cakka. “hii siapa yang kangen sama loe, kayak gak ada orang lain aja buat gue kangenin selain loe, lagipula gue masih normal kali kka”Alvin menonyor cakka. “siapa tau aja kan, secara muka gue ini kan sebelas duabelas sanma justin bieber”cakka dengan PDnya. “oh ya masak?perasaan gak ada mirip-miripnya deh kka”sivia ikutan berrgaje.”iya kan vi gak ada mirip-miripnya, ngaku-ngaku mulu ni bocah ilang”Alvin menambahi. “ah loe di akuin aja napa kalo gue ini mirip JB,”cakka merapikan rambutnya yang bergaya ala justin bieber. “ya udah kita akuin aja vi, nanti kita umumin sama sodara-sodaranya di ragunan”jawab Alvin enteng. “hah ragunan?kebon binatang dong??”cakka kaget. “emang iya”Alvin dan sivia tertawa renyah, sedangkan cakka Cuma memajukan mulutnya, alias manyun.   
“vin, udah sore aku pulang dulu ya?!”pamit sivia. “ya udah deh hati-hati ya, kalo ada apap-apa sebut namaku 3 kali”gurau Alvin. “siape loe, pake suruh nyebut nama 3 kali lagi, nama jelek gitu aja”ledek cakka. “biarin, mendingan nama gue dari pada nama loe, apaan tu cakka”balas Alvin. Sivia tersenyum melihat tingkah sahabat-sahabatnya. “kebanggaan tersendiri mempunyai sahabat seperti kalian”batin sivia.”ya udah gak usah berantem, aku pulang dulu ya bye”sivia melambaikan tangan dan berlalu.”bye via,”balas Alvin dan cakka membalas lambaian tangan sivia. Sampai di depan rumah “lho, mobil ayah kok di rumah bukannya tadi keluar kota?”gumam sivia saat melihat mobil ayahnya terparkir di depan rumah. “aduh, bias dimarahin ini nanti”sivia panik.dengan takut-takut sivia membuka gerbang rumah dan masuk. Tanpa sengaja ayah via pun baru keluar dari pintu rumah dan berpapasan dengan via. Sivia kaget, ayahnya hanya memandang sebentar,sivia membalas pandangan ayahnya dengan senyuman,tapi dengan cueknya ayah via tak membalas bahkan melihat via pun tidak. Sivia hanya menarik nafas panjang dan mencoba bersabar. “hum..sebesar itukah salahku sama ayah sampai ayah gak mau menyapa barang sekata”batin sivia sedih.
Pagi hari di sekolah, “v, btar olahraga ya?”Tanya siia pada irva teman sebangkunya. “iya vi lo bawa baju olahraga kan?”tanyanya balik. “bawa”jawab via tersenyum. Saat olahraga sivia dkk melakukan pemanasan dulu sebelum berolahraga. “duh, berat banget rasanya ni kepala”batin sivia. “vi, loe sakit?wajah loe kok pucet gitu?”tegur irva yang melihat perubahan pada wajah via. “hah, gak kok paling kurang tidur aja tadi aku tidur malem banget”elak sivia. “oh, ya udah deh gue ambil bola dulu ya”pamit irva. “duh..tuhan berat banget sih kepala ini”rintih sivia. Bukkkk…..sivia terjtuh tak sadarkan diri.
“vi, loe gak pa-pa?”Tanya Alvin di uks. “hah, emang aku tadi kenapa?”Tanya sivia. “tadi loe pingsan vi saat olahraga, loe sakit vi?”Tanya+jawab cakka. “gak kok aku gak sakit mungkin kecapean aja, kalian kok disini gak ikut pelajaran?”kilah sivia. “tadi jam kosong makaya kita jagainmloe”jawab Alvin. “oh, ya udah kalian bali ke kelas kalian aja, aku udah gak pa-pa kok”pinta sivia. “beneran vi?”Tanya Alvin cemas. “iya, percaya deh sama aku”sivia berkata mantap. “ya udah deh, kita balik ya vi, hati-hati”pamit cakka. Sivia hanya mengangguk sembari tersenyum. “aku kenapa ya? Padahal selama ini aku gak pernah pingsan.”gumam sivia.
Siang hari sepulang sekolah, sivia tidak langsung pulang ke rumah melainkan ke rumah sakit. Dia memang berniat memeriksakan dirinnya. “gimana dok?”Tanya sivia pada dokter yang memeriksanya. “menurut hasil laboraturium nak via positif terkena leukemia stadium akhir”dokter itu menyerahkan secarik kertas hasil lab. Sivia memandangimya tak pecaya. “adakah kemungkinan untuk smbuh dok?”Tanya siviamencoba mencari sedikit titik terang. “minim sekali kemungkinan untuk sembuh, ada juga pnobatan untuk menghilangkan kanker itu, tapi saya juga tidak bisa menjaminnya seratus persen”ujar dokter. “apa itu dok?”Tanya sivia “kemoterapi”jawab sang dokter mantap. “kemoterapi?? Efek sampingnya?” “mual dan rambut nak via akan mudah rontok” sivia menghela nafas miris, membayangkan rambut lebatnya akan hilang begitu saja. “oh,, ya udah dok, terima kasih”pamit sivia.
“cobaan apa lagi Tuhan yang engkau berikan pada saya?”isak sivia di dalam kamarnya. “Tapi aku percaya kok tuhan kalo engkau tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuanku, aku pasti bisa melewat ini’sivia menghibur dirinya sendiri. “gimana ya reaksi ayah seandainya dia tau smua ini”batin sivia yang melihat ayahnya sdang membaca Koran di ruang tengah.
Malam itu sivia keluar menuju rumah pohon kebetulan ayahnya baru saja pergi ke luar negri. “hay…”sapa seseorang dari bawah. Sivia menengok ke bawah. “hay Alvin, naik gih”suruh sivia. Alvin pun naik dan duduk sivia di samping sivia. “tumben banget malam-malam keluar?”Tanya Alvin. “iya kebetulan ayah keluar negri, oh ya vin aku mau nanya nih?”ujar sivia sambil mengayunkan kakinya. “Tanya aja”Alvin tersenyum. “kamu gak akan ngucilin aku kan jika aku ada kekurangan yang gak bisa aku perbaiki”ujar sivia hati-hati. “hahahah lo lucu deh vi, ya gak mungkin lah gue ngucilin lo, lo tuh sahabat gue dari dulu dan apapun kekurangan lo itu, ge akan berusaha buat nutupinnya”ujar Alvin sungguh-sungguh. Sivia tersenyum simpul “makasih ya ko Alvin,” sama-sama dek via”Alvin mengacak-acak rambut sivia dengan lembut. “gue akan selalu jagain lo vi dan gue janji gue akan nutupin apapun kekurangan lo”batin Alvin.”oh ya vin, kamunkan udah sma, udah punya cewe incaran belum”goda sivia usil. “cewe incaran?? Ehm siapa ya kayaknya gak ada deh, eh ada deh”jawab Alvin tak kalah usil. “oh ya??? Siapa kasih tau dong, kenalin ke aku”rengek sivia layaknya anak kecil. “gak ah ntar lo ngiri lagi sama dia” “emang dia kayak gimana??”Tanya sivia penasaran. “pokoknya orangnya cuantik banget, udah gitu baik, lembut, gak mudah putus asa lagi”jelas alvin. “waw perfect banget ya,, iya aku pasti langsung minder ketemu sama  diia”gumam sivia. “seandainya lo tau vi, cewe itu adalah lo”batin alvin sedih. “tapi boleh dong dikenalin ke aku, penasaran banget nih,,ntar kalo aku mati penasaran gimana, kamu bakal aku hantui tiap malam”ancam sivia. “ngancem nih,,, kapan-kapan juga tau sendiri,”ujar alvin. “iya udah deh, oh ya aku pulang dulu ya”pamit sivia. “gue juga mau pulang kok, bareng yuk”ajak alvin. “oke kamu duluan yang turun gih”suruh sivia. Alvin pun menuruni anak tangga. “ayo ganti lo yang turun”teriak alvin sesampainya dibawah. Sivia turun dengan hai-hati, tiba-tiba “arghhhh……”teriak sivia terpeleset di anak tangga dan bukkkk “adohhh, “rintih alvin yang tubuhnya tertimpa sivia. Sivia kaget setengah mati melihat siapa yang dijatuhinya. Dipandanginya alvin lekat-lekat, begitu juga alvin memandangi sivia. “gak salah gue milih cewe secantik lo”batin alvin. “aku baru tau ternyata alvin itu ganteng ya”batin sivia. “adoh, berat vi”ujar alvin. “eh eh iya maaf”sivia cepat-cepat bangkit dan membersihkan bajunya. “maaf ya vin”sivia garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. “heheh iya gak pa-pa kok”alvin nyengir kuda.
“vi, nanti malam udah siap kan buat tampil lomba?”sapa Alvin di depan kelas. “agak nervous sih vin, tapi yaudah lah aku berusaha tampil semaksimal mungkin”jawab Via. “sip, itu baru sahabat gue”ucap Alvin yang setengah hati. Padahal dia ingin lebih dari sekedar sahabat. “pah”panggil Via hati-hati. Papa sivia hanya menanggapi dingin. “nanti malam Via ada lomba biola pa, papa datang ya” melihat tak ada respon Sivia diam sebentar. “5 menit juga gak pa-pa kok pa, tapi Via mohon ayah datang ya?”mohon Via. “oke ayah akan datang tapi hanya sebentar”akhirnya ayah Sivia luluh juga. “iya yah, gak pa-pa kok makasih ya pa”Sivia tersenyum lebar, mungkin baru kali ini keinginan dari Via untuk ayahnya terkabulkan. Tidak seperti anak-anak yang lain, jika permintaannya terpenuhi langsung peluk cium ayahnya, Via hanya tersenyum dan memperhatikan ayahnya dari dalam kamarnya. “via seneng banget ma, ayah mau datang nanti malam di lomba Via,” via menatap bingkai foto dia bersama mamanya. Tesss…..darah sedikit menetes di foto yang sedang Via pegang. Sivia mengusapnya dan membersihkan hidungnya dengan tersenyum bijak. Dan akhirnya dia pun terlelap di alam mimpinya.
Malam ini , malam dimana Sivia akan membuktikan kepada papanya kalo dia mampu membuat papanya bangga. “deg deg an ya vi?”Tanya Alvin yang duduk disamping Via. “iya vin,” Sivia mencoba mengatur nafasnya. “tenang percaya deh lo pasti bisa”semangat Alvin. “makasih vin”sivia tersenyum. Perasaannya agak tenang jika Alvin member support. Finalis demi finalis sudah menampilkan keahliannya, hingga tiba saatnya Sivia harus menampilkan belihaiannya dalam memainkan biola. Gesekan pelan menyentuh biola Via, lama-lama gesekan itu berubah menjadi rangkaian nada yang indah. Sivia menghayati dalam memainkan nya. Dalam hatinya ada satu tekad papa harus bangga dengan aku.. tepuk tangan riuh member tanda bahwa berakhir sudah permainan indah via. “keren vi penampilan lo, gue jadi semakin yakin kalo bakalan menang”ujar Alvin sambil mengacungkan jempolnya. “makasih Ko Alvin, ini juga berkat bantuan kamu kok”Sivia menoleh kea rah papanya. Meskipun tidak member komentar tapi dari raut wajahnya terlihat kalo ayah Via senang dengan penampilan via tadi. Tiba saatnya pengumuman pemenang diumumkan. “huftt…aku takut Vin”lirih Via. “tenang Vi, percaya diri aja”hibur Alvin. Juara ke 3 dan ke 2 sudah disebutkan oleh panitia. “nama ku mmungkin gak tersebut”batin Via sedih. “aduhh Ya Allah sakit banget,, aku mohon jangan sekarang aku ingin melihat papa  tersenyum untukku”batin Via menahan sakit. “vi, lo gak pa-pa?”Tanya Alvin yang melihat oerubahan pada sikap Via. Via hanya menggeleng lemah. Seketika dunia terasa gelap bagi Via dan waktu berhenti berputar.
Di depan ruang UGD papa Via, Alvin, Cakka, terlihat gelisah. “tenang Vin, Via baik-baik aja kok”hibur Cakka. “gue takut kka, terjadi apa apa sama Via”gumam Alvin. Cakka dengan langkah pelan menghampiri ayah Via. “om,”panggil Cakka. Ayah Via menoleh lemas. “Via sebenarnya sakit apa sih? Kenapa mendadak sakit gini padahal dulu dia baik-baik aja”Tanya Cakka. “ini semua salah om yang tidak perhatian sama Via, karena om menganggap Via pembawa masalah dirumah akhirnya semua masalahnya dia pendam sendiri”sesal ayah Via. “om menemukan hasil lab di kamar Via yang menyatakan kalau Via terkena leukemia”lanjut ayah via. Alvin yang mendengar pun kaget dan langsung mendekat. “leukemia om?”Tanya Alvin tak percaya. “iya stadium akhir”. Seketika itu tubuh Alvin lemas ia gak sanggup untuk berbicara. Sebagai sahabat Cakka hanya menghibur dan menghibur. “keluarga kurniawan silakan masuk Via ingin berbicara”seru seorang suster setelah keluar dari ruangan Via.
Di dalam ruangan Via terbaring lemah dengan peralatan medis tertempel ditubuhnya. “ayah”lirihnya hampir tak terdengar. Ayah Via hanya tersenyum menahan tangis. “alvin, cakka kalian disini juga”lanjutnya. Alvin hanya tertunduk sedih sedangkan Cakka mencoba tersenyum. “ayah Via tadi dapat juara gak? Maaf ya ayah kalo Via mengecewakan ayah, Via belum bisa buat ayah bangga”ujarnya terbata-bata. “Via udah buat ayah bangga dengan semua yang Via miliki, ayah bangga punya anak seperti kamu, maafkan ayah akan sikap ayah selama ini”ayah via memeluk Via dengan penuh kasih sayang. “makasih ayah dengan ayah tersenyum Via udah seneng banget”ujar Via. “alvin, cakka makasih banget udah mau jadi sahabat terbaik Via selama ini, tanpa kalian Via mungkin gak sekuat sekarang, kalian pelangi-pelangi terbaik yang Via miliki”dibalik wajah pucatnya Via mencoba tersenyum. “aku sayang sama kamu vi”ungkap Alvin. Via tersenyum mendengarnya. “aku juga sayang sama kamu dan semua”valas Via dengan senyuman. “kamu hujan terindah yang bisa membuat pelangi ceria”balas Alvin. “mungkin ini sudah waktunya Via pergi,, Via mohon kalian jangan sedih gara-gara Via”ujar Via tersndat sendat. “vi, lo pasti kuat kok Vi, lo pasti sembuh”Alvin menyemangati. “aku baik-baik saja kok vin kamu tenang ya,, ayah Via sayang sama ayah, Cakka jangan jail ya…”itulah kata kata terakhir yang terucap dari mulut Via. Ayah Via tak kuasa menahan tangis, begitu juga Alvin dan Cakka.
“kka gue gak nyangka kalo hari-hari ke depan bakal kita laluin tanpa Via”Alvin menerawang ke langit. “iya gue juga Vin, tapi kalo kita terlalu terpuruk dalam kesedihan via pasi juga ikut sedih”ujar Cakka. “Lo bener kka, via akan selalu bersama kita meski raganya gak terlihat”Alvin tersenyum simpul. Tanpa tersadari awan dilangit membentuk sebuah senyuman, senyuman persahabatan.

tamat